Menteri LH Temukan Jejak Penebangan di Balik Tumpukan Kayu Banjir SumatraIlustrasi Tumpukan Kayu Banjir Sumatra

Menteri LH Temukan Jejak Penebangan di Balik Tumpukan Kayu Banjir Sumatra

Jakarta - Pemerintah kembali menegaskan komitmennya dalam mengusut tuntas penyebab banjir bandang di Sumatra Utara. Kementerian Lingkungan Hidup menyimpulkan bahwa tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus bukan berasal dari proses alami, melainkan hasil aktivitas penebangan di kawasan hulu.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq yang meninjau langsung kondisi DAS di Desa Garoga, Tapanuli Utara, menyebut bahwa kondisi kayu memperlihatkan tanda-tanda jelas adanya keterlibatan manusia.

“Kayu-kayu ini berumur lama, dan sebagian sudah dipotong menggunakan mesin gergaji,” kata Hanif

Kementerian LH memastikan proses penyelidikan tidak hanya berhenti di lokasi temuan. Pemerintah berencana menelusuri kawasan hulu untuk mencari titik awal aktivitas penebangan yang diduga berkontribusi pada derasnya material kayu saat banjir terjadi.

“Kami akan melihat langsung sampai ke hulu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Karena jelas, kayu-kayu ini tidak turun secara alami,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, empat perusahaan besar yang beroperasi di sekitar wilayah terdampak saat ini disegel dan seluruh kegiatannya dihentikan sementara. Perusahaan tersebut antara lain Tambang Emas Martabe (PT Agincourt Resources), PLTA Batang Toru, PT Toba Pulp Lestari, dan PTPN III.

Langkah ini dilakukan untuk memberikan ruang bagi tim audit lingkungan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aktivitas perusahaan yang memiliki pengaruh langsung terhadap kawasan DAS.

Pemerintah menegaskan bahwa penindakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab akan ditempuh apabila ditemukan bukti pelanggaran. Penegakan aturan ini diharapkan menjadi langkah penting dalam mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas sekaligus mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.(ref )