Bali - Pelaksanaan Shalat Id berlangsung di halaman eks Pelabuhan Buleleng, Bali, tak lama setelah berakhirnya Catur Brata Penyepian yang dijalani umat Hindu. Sejak pagi hari, jemaah mulai berdatangan bersama keluarga dengan membawa sajadah, menciptakan suasana religius yang tertib dan damai.
Aparat kepolisian turut bersiaga untuk memastikan kegiatan berjalan aman. Arus lalu lintas di sekitar lokasi juga diatur agar tidak mengganggu jalannya ibadah.
Shalat Id dipimpin oleh imam Royhanudin Islami Al Hafidz, sementara khutbah disampaikan oleh Imam Syafi’i. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momen untuk kembali pada kesucian setelah sebulan menjalani ibadah puasa.
"Idul Fitri bukan hanya hari kegembiraan, tetapi juga saat untuk memperbaiki diri dan kembali kepada kesucian," ujar Imam Syafi’i di hadapan jemaah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman. Menurutnya, perbedaan bukan untuk memecah belah, melainkan untuk saling menguatkan satu sama lain.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng, Moh Ali Susanto, menjelaskan bahwa pelaksanaan Shalat Id tahun ini telah disesuaikan dengan kondisi Bali yang bertepatan dengan Nyepi. Salah satunya dengan mengatur waktu ibadah setelah Nyepi berakhir agar tetap menghormati umat Hindu.
Panitia juga diminta berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat guna menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Perpaduan antara perayaan Idul Fitri dan penghormatan terhadap Nyepi menjadi bukti nyata bahwa toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia tetap terjaga dengan baik, khususnya di Bali.(dek)
Momen ini menjadi potret nyata toleransi antarumat beragama di Pulau Dewata.(Foto ilustrasi) 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!