Jemaah Muhammadiyah Gelar Shalat Id di Jalan Pahlawan Surabaya, Khutbah Tekankan Tiga Pilar Islam daRibuan jemaah Muhammadiyah memadati Jalan Pahlawan, Surabaya, saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H

Jemaah Muhammadiyah Gelar Shalat Id di Jalan Pahlawan Surabaya, Khutbah Tekankan Tiga Pilar Islam da

Surabaya - Ribuan jemaah Muhammadiyah memadati Jalan Pahlawan, tepat di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026) pagi.

Sejak pukul 05.45 WIB, jemaah sudah mulai berdatangan dan memenuhi area shalat. Saf demi saf terisi rapi hingga jalan bersejarah yang menjadi simbol perjuangan Kota Pahlawan itu dipadati lautan umat.

Pelaksanaan Shalat Id dimulai tepat pukul 06.15 WIB dengan suasana yang berlangsung khidmat. Bertindak sebagai khatib, Ustaz Thoat Setiawan yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya.

Dalam khutbahnya, Ustaz Thoat menyampaikan tiga pilar utama sebagai pesan penting Idul Fitri tahun ini.

Pilar pertama adalah kesadaran spiritual bahwa seluruh kenikmatan hidup berasal dari Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

“Apa yang kita nikmati di dunia ini semuanya dari Allah dan nantinya akan kembali kepada Allah,” ujarnya.

Pilar kedua menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun akhirat, hanya dapat diraih dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an.

“Maka dasar perdamaian kita harus kembali kepada Al-Qur'an,” tegasnya.
Sementara pilar ketiga adalah meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah menjadi contoh nyata dalam perilaku, ucapan, dan tindakan sebagai implementasi ajaran Allah dan maqasid syariah.

Ustaz Thoat juga menyinggung perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri yang kembali terjadi tahun ini. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat dua bentuk kepemimpinan, yakni kepemimpinan pemerintahan dan kepemimpinan keagamaan.

Menurutnya, dalam Muhammadiyah, otoritas keagamaan berada pada Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Kalau di Muhammadiyah, ulama itu adalah PP Muhammadiyah. Maka ketika mengikuti arahannya, salat Id instruksinya tanggal 20, kita wajib menaati apa yang telah menjadi kesepakatan dan instruksi ulama kita,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan pentingnya menjaga sikap saling menghormati di tengah perbedaan.

“Saudara-saudara kita yang berbeda tentunya memiliki pedoman yang juga memiliki dasar dan ketentuan hukum, sesuai dengan kepakaran para ulama mereka,” ujarnya dengan penuh toleransi.

Salah satu jemaah, Khusnul (26), warga Kalijudan, Surabaya, mengaku memilih melaksanakan Shalat Id di Jalan Pahlawan karena suasananya yang lebih luas dan ramai.

“Kalau di sini suasananya berbeda, lebih ramai dan tempatnya juga luas. Jadi kami lebih nyaman,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa dirinya datang bersama keluarga besar dan rutin mengikuti Shalat Id di lokasi tersebut setiap tahun.

“Kami rutin ke sini setiap tahun, bareng-bareng sama suami, anak-anak, dan keluarga besar,” pungkasnya. (alr)