Situbondo - Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan salah satu bangunan asrama putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdur Qodir Jaelani di Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Situbondo, roboh pada Rabu (29/10) dini hari. Akibat kejadian ini, satu santriwati meninggal dunia dan 18 lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa tragis itu terjadi saat 19 santriwati tengah tertidur pulas di lantai dua asrama. Tiba-tiba, bagian atap dan dinding bangunan ambruk dan menimpa para penghuni di dalamnya.
Korban meninggal diketahui bernama Putri (13 tahun). Ia sempat dilarikan ke RSUD Besuki, namun nyawanya tidak tertolong. Sementara itu, 18 santriwati lainnya mengalami luka ringan hingga berat dan kini masih menjalani perawatan.
Pengasuh pesantren, KH. Muhammad Hasan Nailul Ilmi, mengaku tidak menyangka bangunan asrama akan roboh. Menurutnya, sebelum kejadian tidak ada tanda-tanda kerusakan pada struktur bangunan.
“Tidak ada retakan sebelumnya, hanya memang tadi malam hujan turun sangat deras disertai angin kencang,” ujar KH. Hasan Nailul Ilmi.
Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Sruwi Hertanto, menjelaskan hasil asesmen awal menunjukkan bahwa bangunan tersebut sudah mengalami retakan akibat gempa beberapa bulan lalu. Hujan deras dan angin kencang memperparah kondisi bangunan hingga akhirnya ambruk.
“Tembok asrama memang sudah retak karena terdampak gempa beberapa waktu lalu, dan diperparah hujan lebat disertai angin kencang,” ungkapnya.
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdur Qodir Jaelani diketahui menampung sekitar 300 santri. Usai kejadian, sebagian santri dipulangkan oleh pihak keluarga, sementara lainnya tetap berada di pesantren dengan pengawasan ketat pihak pengasuh dan aparat setempat (bank)
Ilustrasi1 Santri Putri Meninggal Dunia Akibat Robohnya Bangunan Ponpes Salafiyah 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!