Keracunan Massal di Surabaya Diselidiki, Puluhan Warga Sidodadi Diduga Terpapar Nasi BerkatDinas Kesehatan Kota Surabaya saat ini masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti.(Foto ilustrasi)

Keracunan Massal di Surabaya Diselidiki, Puluhan Warga Sidodadi Diduga Terpapar Nasi Berkat

Surabaya,- Insiden keracunan massal terjadi di wilayah Sidokapasan X, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Simokerto, Surabaya. Puluhan warga dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, hingga lemas setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam sebuah acara tahlilan.

Dinas Kesehatan Kota Surabaya saat ini masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Hingga kini, belum ada sampel makanan yang dapat diuji di laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Billy Daniel Messakh menyebut, pihaknya belum bisa memastikan kandungan yang menyebabkan keracunan karena keterbatasan sampel.

“Kami belum bisa memastikan penyebabnya karena tidak ada sampel makanan yang bisa diperiksa. Yang diketahui hanya menu makanan seperti nasi, ayam bumbu merah, tumis buncis, bihun goreng, dan acar,” ujarnya.

Meski begitu, Dinkes menyoroti proses distribusi makanan yang dinilai tidak memenuhi standar kebersihan. Makanan disebut dikemas tanpa penggunaan alat pelindung diri oleh petugas yang menangani.

“Dari proses pembagian porsi, petugas tidak menggunakan pelindung diri saat menjamah makanan,” tambahnya.
Berdasarkan data sementara, sekitar 21 warga mengalami gejala keracunan. Sebanyak 17 orang menjalani rawat jalan, sementara empat lainnya sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Peristiwa ini bermula dari kegiatan tahlilan tujuh harian warga yang digelar beberapa hari sebelumnya. Warga yang hadir membawa pulang nasi berkat, dan mulai merasakan gejala keesokan harinya.

Ketua RT setempat menyebutkan, kasus ini baru terdeteksi meluas setelah semakin banyak warga mengalami keluhan serupa dalam waktu hampir bersamaan.

“Awalnya hanya satu-dua orang, tapi kemudian bertambah banyak. Baru terasa serius saat Jumat malam,” ungkapnya.

Menariknya, warga yang mengonsumsi makanan langsung di lokasi tidak mengalami gejala, sementara yang membawa pulang makanan justru terdampak. (alr)