Jakarta — Misteri kematian selebgram Lula Lahfah (LL) yang ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan akhirnya terungkap. Fakta-fakta terbaru menunjukkan bahwa penemuan jenazah bermula dari kecurigaan asisten rumah tangga (ART) yang tidak melihat aktivitas rutin korban seperti biasanya.
Kasus ini menjadi sorotan publik setelah polisi membeberkan kronologi lengkap berdasarkan rekaman CCTV, keterangan saksi, serta hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Mohamad Iskandarsyah, menjelaskan bahwa kecurigaan pertama muncul pada Jumat, 23 Januari 2026. ART berinisial A merasa ada kejanggalan karena Lula tidak terlihat melakukan olahraga pagi, aktivitas yang rutin dilakukan korban setiap hari.
“Biasanya setiap pagi korban berolahraga. Namun pada hari itu tidak terlihat aktivitas sama sekali, sehingga ART mulai curiga,” ujar Iskandarsyah dalam konferensi pers, Jumat (30/1/2026).
Kecurigaan tersebut membuat ART turun ke lobi apartemen sekitar pukul 17.37 WIB untuk meminta bantuan karena pintu unit tidak bisa dibuka dan tidak ada respons dari dalam.
ART kemudian menghubungi petugas keamanan dan tim engineering apartemen. Sekitar pukul 17.47 WIB, pintu unit terpaksa dibuka secara paksa karena terkunci dari dalam.
“Saat pintu berhasil dibuka, korban ditemukan tergeletak kaku di dalam kamar,” jelas Iskandarsyah.
Penemuan jenazah tersebut membuat ART dan sopir pribadi korban panik. Mereka kemudian menghubungi sejumlah orang terdekat korban, termasuk teman-teman dan kekasih korban, Reza Arap, yang datang bersama tim dokter sekitar pukul 19.21 WIB.
Dalam proses olah TKP, polisi menemukan beberapa barang di dalam kamar korban, salah satunya tabung whip berwarna pink yang berisi gas nitrous oxide (N₂O) atau gas tertawa. Temuan ini sempat memicu spekulasi luas di media sosial.
Polisi menegaskan bahwa tabung tersebut milik korban dan telah diperiksa secara ilmiah.
“Hasil Puslabfor memastikan terdapat DNA sentuhan milik saudari LL pada tabung tersebut,” kata Iskandarsyah.
Selain itu, polisi juga menemukan obat-obatan, vape, cairan liquid, serta tisu dan seprai yang terdapat bercak darah.
Setelah memeriksa 15 saksi, menganalisis rekaman CCTV, serta mengumpulkan barang bukti, Polres Metro Jakarta Selatan memutuskan menghentikan penyelidikan karena tidak ditemukan unsur pidana dalam kasus ini.
“Kami sudah melakukan penyelidikan secara maksimal. Tidak ditemukan peristiwa pidana, sehingga penyelidikan resmi dihentikan,” tegas Iskandarsyah.
Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menghormati keluarga korban yang tengah berduka. (ref)
Polres Metro Jakarta Selatan memutuskan menghentikan penyelidikan karena tidak ditemukan unsur pidana (Foto Ilustrasi) 
.jpg)












Komentar
Tuliskan Komentar Anda!