Surabaya,- Perjalanan spiritual para biksu Thudong menuju Candi Borobudur menjelang Hari Raya Waisak 2026 terus menyita perhatian masyarakat. Salah satu peserta asal Indonesia, Bante Teja Punyo, mengungkap tantangan terbesar selama perjalanan lintas Jawa Timur hingga Jawa Tengah adalah cuaca panas ekstrem yang menguras tenaga.
Bante Teja Punyo menjelaskan, meditasi tidak selalu dilakukan dengan duduk. Dalam praktik Buddhis, meditasi juga dilakukan sambil berjalan, berdiri hingga berbaring. Karena itu, perjalanan panjang menuju Borobudur menjadi bagian dari praktik meditasi jalan yang telah dijalani para bante setiap hari.
“Banyak orang tahunya meditasi itu duduk, padahal meditasi juga bisa dilakukan sambil berjalan. Para bante memang sudah terbiasa meditasi jalan di kesehariannya,” ujar Bante Teja Punyo.
Meski sudah terbiasa berjalan jauh, cuaca panas menjadi tantangan utama selama perjalanan. Menurutnya, suhu terik terutama pada pukul 09.00 hingga 14.00 membuat energi para peserta cepat terkuras sehingga target perjalanan terkadang tidak tercapai.
“Yang menjadi kendala di perjalanan menuju Borobudur ini cuaca yang tidak menentu. Kadang sangat panas sekali. Energi sangat terkuras dan tenaga cepat habis,” katanya.
Namun demikian, para peserta tetap berusaha konsisten melanjutkan perjalanan dengan penuh ketenangan dan fokus. Ia menekankan bahwa perjalanan spiritual mengajarkan pentingnya terus melangkah dalam kondisi apa pun.
“Kita harus terus melangkah. Kalau berhenti ya tidak akan sampai. Fokus saja melangkah dan hidup dalam kekinian,” ungkapnya.
Dalam perjalanan tersebut, para bante juga menerapkan aturan disiplin ketat, termasuk tidak makan setelah pukul 12 siang. Mereka hanya diperbolehkan minum dan harus duduk terlebih dahulu saat makan atau minum.
“Kami biasanya berjalan sekitar lima kilometer lalu istirahat sebentar untuk minum sebelum melanjutkan perjalanan lagi,” jelasnya.
Selain itu, Bante Teja Punyo juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, TNI, Polri, panitia hingga masyarakat yang turut membantu kelancaran perjalanan para biksu dari berbagai negara seperti Thailand, Malaysia dan Laos menuju Borobudur.
“Koordinasinya luar biasa baik, mulai dari Kementerian Agama, TNI, Polri hingga masyarakat di daerah-daerah yang menyambut dengan sangat meriah,” ujarnya.
Menurutnya, sambutan hangat masyarakat menunjukkan bahwa nilai-nilai kebajikan dibutuhkan semua orang tanpa memandang suku, agama maupun budaya.
Dalam perjalanan itu pula, para bante memilih tidak membawa banyak barang. Setiap pemberian dari masyarakat diterima dengan rasa syukur lalu dibagikan kembali kepada orang lain yang membutuhkan.
“Kita belajar melepaskan beban pikiran supaya tidak stres dan hidup lebih damai. Hidup manusia akan lebih bernilai kalau bisa memberi manfaat bagi kehidupan,” tuturnya.
Menjelang Hari Raya Waisak pada 21 Mei mendatang, Bante Teja Punyo juga mengajak masyarakat mengisi momentum suci tersebut dengan berbagai kegiatan positif seperti membersihkan lingkungan, tempat ibadah dan memperbaiki perilaku sehari-hari.
“Baik mengendalikan pikiran, ucapan dan perilaku supaya hidup semakin bijak dan bahagia,” pungkasnya. (alr)
Banyak orang tahunya meditasi itu duduk, padahal meditasi juga bisa dilakukan sambil berjalan 













Komentar
Tuliskan Komentar Anda!