Ribuan Warga Surabaya Sambut Biksu Thudong, Semangat Toleransi Walk for Peace 2026Meski harus menghadapi cuaca panas dan perjalanan panjang, para biksu tetap konsisten melanjutkan perjalanan

Ribuan Warga Surabaya Sambut Biksu Thudong, Semangat Toleransi Walk for Peace 2026

 Surabaya, - Perjalanan spiritual para biksu Thudong dari Bali menuju Candi Borobudur menjelang Hari Raya Waisak 2026 mendapat sambutan hangat dari masyarakat Surabaya. Mengusung tema Walk for Peace 2026, sebanyak 57 bante berjalan kaki menempuh ribuan kilometer sebagai bentuk latihan spiritual, meditasi jalan, dan pesan perdamaian lintas umat beragama.

Pada Kamis petang, rombongan biksu memasuki Kota Surabaya dan bermalam di Wihara Budaya Dhamma Wira Center sebelum melanjutkan perjalanan menuju Borobudur untuk mengikuti rangkaian perayaan Hari Raya Waisak 2026.

Sepanjang perjalanan di Kota Surabaya, antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Ribuan warga memadati pinggir jalan untuk menyambut para biksu Thudong. Tidak hanya umat Buddha, sejumlah warga dan umat Hindu juga ikut memberikan bantuan logistik berupa makanan, air minum, hingga perlengkapan perjalanan bagi para bante.

Suasana kebersamaan dan toleransi antarumat beragama terasa kuat selama perjalanan spiritual tersebut. Dukungan masyarakat dinilai menjadi penyemangat bagi para biksu yang harus berjalan di tengah cuaca panas ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Timur.

Salah satu warga Surabaya, Evi, mengaku sengaja bersama komunitas wihara di Jawa Timur menyiapkan logistik untuk mendukung perjalanan para biksu dalam kegiatan Walk for Peace 2026.

“Kami bersama komunitas wihara memang sengaja menyiapkan bantuan logistik untuk para bante sebagai bentuk dukungan dan rasa hormat terhadap perjalanan spiritual ini,” ujar Evi.

Meski harus menghadapi cuaca panas dan perjalanan panjang, para biksu tetap konsisten melanjutkan perjalanan dengan penuh ketenangan dan disiplin hingga nantinya tiba di Candi Borobudur.

Tradisi Thudong sendiri merupakan perjalanan spiritual dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan berjalan kaki sambil melatih kesabaran, kesederhanaan, pengendalian diri, dan meditasi jalan. Perjalanan ini juga diikuti para biksu dari berbagai negara seperti Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia.(alr)